Jembatan atau Jalan Layang Pasupati, Bandung

Jembatan atau Jalan Layang Pasupati, Bandung – Jembatan Pasupati atau Jalan Layang Pasupati adalah sebuah jembatan yang sekarang kini menghubungkan antara bagian utara dan timur Kota Bandung melewati lembah atau sungai Cikapundung.

Jembatan Pasupati ini memiliki panjang lebih kurang 2,8 km dan lebarnya 30-60 m sehingga dengan jalan yang lebar bisa menampung banyak kendaraan dan mampu mengurai kemacetan di Kota Bandung.

Selain Gedung Sate, sekarang ini Jalan Layang Pasupati juga menjadi salah satu ikon Kota Bandung. Jembatan Pasupati ini akan terlihat lebih indah jika dilihat dari pesawat pada malam hari. Namun agaknya jarang pesawat yang mendarat di Bandung pada malam hari.

Selain itu pada malam hari tiang yang dilengkapi kabel sling yang menopang Jembatan Pasupati diterangi lampu sorot warna-warni. Sehingga membuat Jembatan Pasupati akan terlihat semakin menawan.

Jalan layanh Pasupati ini juga membuat arus lalu lintas dari wilayah sekitar Jabodetabek yang menuju Bandung menjadi lebih mudah dan pastinya bisa mengurai kemacetan di Bandung.

Untuk kamu yang masih bingung mengapa disebut dengan Jalan layang (flyover) Pasupati. Jawabannya adalah nama ini merupakan singkatan dari Jalan Pasteur dan Jalan Surapati.

Berdasarkan informasi dari banyak sumber jalan layang Pasupati menurut sejarah sudah dirancang oleh arsitek Ir. Karsten. Arsitek ini sudah merancang rancangan Kota Bandung sejak tahun 1920-an.

Baca juga:  Harga Tiket Masuk Taman Wisata Matahari

Hingga ke sepuluh tahun selanjutnya, sejak tahun 1931 rancangan itu masih tetap jadi obsesi sebagaimana program Autostrada yang menghubungkan missing link Jalan Pasteur (Pasteurweg) dan Jalan Ir. H. Djuanda (Dagoweg).

Menurut keterangan dari banyak sumber biaya pembangunan jembatan ini didapatkan dari hibah dana dari pemerintah Kuwait. Ini bisa menjadi bukti bahwa negara di Timur Tengah bisa menjadi mitra bagi Indonesia untuk masa yang akan datang.

Menurut kabar proses pembangunan sempat terhambat masalah pendanaan dan pembebasan lahan. Ini berdampak tertundanya projek selama tiga tahun. Selanjutnya pembangunan dapat dilanjutkan kembali pada 31 Januari 2004. Kemudian pada 12 Juli 2005, fly over Pasupati bisa diresmikan oleh Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono.

Fakta yang menarik mengenai adalah flyover Pasupati merupakan jalan layang pertama di Indonesia yang memanfaatkan teknologi peredam gempa. Di sepanjang fly over Pasupati terpasang sebanyak 76 perangkat anti gempa (lock up device) yang dibeli dari Prancis.

Sekarang ini, fly over Pasupati menjadi salah satu landmark Kota Bandung. Selain itu jalan layang Pasupati ini sudah pernah dijadikan lokasi pembuatan iklan dan film.

Sementara di bagian kolong fly over Pasupati ini, kini sudah dijadikan ruang interaksi publik. Dulunya lahannya termasuk kawasan yang kurang dirawat dan hampir kumuh. Namun kini sudah dimanfaatkan untuk taman kota, seperti Taman Jomblo atau Taman Pasupati, Lapang Futsal Bawet, Skate Park dan Taman Film.

Baca juga:  Wisata Pantai Sindangkerta, Tasikmalaya

Selain itu beredar kabar bahwa nantinya Pemerintah Kota Bandung akan menambah taman lain dibawah Jalan Layang Pasupati ini.

Sekadar saran untuk Pemerintah Kota Bandung dan untuk semuanya, sekarang ini Jalan Layang Pasupati banyak terdapat coretan yang mengganggu keindahan Jalan Layang Pasupati. Harapannya ini bisa segera diatasi dan bisa menjaga keindahan Jembatan Pasupati ini.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *